Anda Wajib Tau Apa Itu HS CODE Sebelum Melakukan Kegiatan Exim

Anda Wajib Tau Apa Itu HS CODE Sebelum Melakukan Kegiatan Exim

Dunia eksport import merupakan salah satu ranah yang begitu luas paparannya. Karenanya tidak mudah untuk memahami dunia kerja satu ini. Apalagi jika anda memang tidak memiliki dasar di dalamnya. Hal ini dikarenakan di dalam perdagangan internasional ada perbedaan tata cara dan pandangan dari setiap negara terhadap regulasi perdagangan ini. Karenanya jangan pernah anda menyepelekan hal ini jika tidak ingin terjadi kesalahan. Ada banyak sekali aspek yang wajib anda pahami pada saat anda mendalami dunia ekspor impor ini.

Salah satu aspek yang wajib anda dalami adalah mengenai HS Code. Pernahkah anda mendengar istilah satu ini? HS Code merupakan salah satu aspek terpenting yang wajib anda pahami sebelum anda mulai terjun di dalam dunia ekspor impor. Meskipun bagi orang awam, sudah pasti istilah satu ini benar benar terdengar sangat asing. Akan sangat baik jika anda memahaminya terlebih dahulu.

Definisi HS Code Secara Lengkap

HS CODE merupakan singkatan dari Harmonized System. Seringkali istilah satu ini juga disebut HS saja. Rentetan kode HS ini merupakan sebuah daftar yang ditujukan untuk penggolongan barang barang yang sengaja dibuat secara sistematis. Pembuatan HS CODE ini tentunya bertujuan supaya para trader mendapatkan kemudahan dalam transaksi perdagangan yang mereka lakukan. Terlebih lagi hal ini juga akan mempermudah penarifan, statistik dan pengangkutan yang terus menerus diperbaiki dari versi sebelumnya.

Harmonized system ini menjadi salah satu acuan dari buku daftar tarif yang ada di Indonesia dan dimasukkan ke dalam BTBMI atau Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Tidak hanya di Indonesia saja, HS Code ini juga menjadi standarisasi perdagangan dunia. Sistem satu ini awalnya disusun pada tahun 1986 oleh World Custom Organization yang dulunya masih bernama Custom Operation Council.

Dulunya HS Code ini lebih dikenal dengan nama Harmonized Commodity Description and Coding System. Acuan satu ini telah disahkan pad saat konvensi HS dilaksanakan. Pada saat itu hanya 70 negara yang mayoritasnya berasal dari Eropa yang mengikuti konvensi. Tapi saat ini, HS Code hampir diratifikasi oleh semua negara di dunia termasuk Indonesia. Negeri kita meresmikan standarisari HS Code ini dengan Keppres no. 35 tahun 1993.

Standarisari HS Code Oleh WCO

Sebagai saah satu standar penamaan yang dilgunakan dalam porses perdagangan internasional, tentu saja harus ada wadah khusus yang mengurusi hal ini. Dalam hal ini, WCO berperan sebagai wadah tersebut. World Customs Organization merupakan salah satu organisasi perdagangan resmi terbesar di dunia saat ini dan diikuti oleh lebih dari 170 negara di dunia. Saat ini WTO berpusat di Brussel, Belgia.

WTO ini sendiri bertugas untuk melakukan standarisasi dan perubahan perubahan yang berkaitan dengan HS Code termasuk pada kalsifikasi produk serta turunannya dan memastikan kalau penamaan dan penomoran produk tersebut tidak bertabrakan antara yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan standarisari WCO, ada aturan khusus mengenai tata cara penomoran dan penamaan barang barang yang diperjual belikan di pasar internasional.

alt text

Tata Penamaan HS Code Berdasarkan Aturan WCO

Berdasarkan aturan yang secara resmi dikeluarkan oleh WCO, ada beberapa metode yang wajib anda ikuti terkait tata penamaan dan penomoran produk. Yang paling utama, pastikan anda tahu bahwa tata penamaan utama dari HS CODE ini terdiri dari 6 angka utama. Empat angka pertama yang ada di dalam deretan nomor tersebut memperlihatkan pos WCO yang menjadi gambaran dimana pos tersebut berlokasi.
Setiap anggota WCO memiliki nomor pos identiknya masing masing. Sedangkan dua nomor di belakangnya adalah nomor sub pos. Hal ini bisa menjadi salah satu filter utama dalam proses pengiriman dan penerimaan barang dan sudah terbukti meminimalisir terjadinya kesalahan di dalam proses perdagangan dunia sejak bertahun tahun lalu semenjak HS Code ini dijadikan acuan oleh semuanya. Perlu kami tambahkan, setiap negara yang menjadi anggota dari WCO ini tidak diperkenankan untuk melakukan perubahan sedikitpun terhadap standar angka yang sudah diberikan oleh WCO.

Jika dilakukan tentu akan terjadi kesalahan dalam penafsiran angka angka tersebut oleh pihak lainnya dan ini bisa menjadi kesalahan yang begitu fatal baik bagi pengirim ataupun bagi penerima barang. Karenanya jika anda memiliki pekerjaan di bidang satu ini seperti misalnya bekerja di forwarding Jakarta, anda wajib hati hati dalam menetukan code barang seperti ini. Tidak ada ruang untuk kesalahan di dalam dunia international trading seperti ini.

Memahami Penambahan Angka Dibelakang 6 HS Code

Meskipun begitu sebenarnya ada cara lain yang bisa anda lakukan untuk memastikan kalau anda tidak melanggar aturan WCO tapi tetap bisa menambahkan kode unik yang bertujuan untuk melakukan klasifikasi barang yang anda miliki. Solusinya adalah dengan penambahan digit ke 7 dan 8 yang berarti sub pos AHTN. Kode satu ini biasanya hanya dimiliki oleh barang barang yang berasal dari Asia Tenggara.

Tidak berhenti sampai disitu, anda juga masih bisa menambahkan angka ke 9 dan 10 sebagai bentuk penambahan nomenklatur yang sesuai dengan kebijakan masing-masing negara. Perlu anda ketahui, barang barang yang berasal dari niaga atau pasar impor bisa juga anda masukkan ke dalam HS yang ada pada pos WCO di negara anda. Akan tetapi tetap saja harus anda nilai nilai yang wajib anda penuhi di dalamnya agar menghasilkan nomor yang sesuai dengan standarisasi dunia.

Akan tetapi salah satu syarat yang wajib anda penuhi adalah nominal transaksi yang anda miliki harus berada pada kisaran 50 juta Dolar Amerika dalam tiga tahun terakhir. Tapi jika anda berencana untuk memasukkannya pada daftar AHTN, transaksi minimal yang wajib anda penuhi adalah 1 juta dolar saja dalam tiga tahun terakhir bisnis anda di dalam perdagangan antar negara ASEAN.

Cara Menggunakan HS Code Berdasarkan aturan BTBMI

Seperti sudah anda ketahui, salah satu acuan yang menjadi dasar penggunaan HS Code di Indonesia adalah keberadaan BTBMI di dalamnya. Sebagaimana sudah kita bahas sebelumnya, angka angka yang ada pada deretan HS Code ini memiliki arti dan manfaatnya masing masing dan merupakan uraian atau pengertian dari produk yang hendak diterima atau dikirimkan di dalam proses ekspor impor.

Berdasarkan aturan dari BTBMI, Penggunaan HS Code di dalam penerapannya mengacu pada beberapa digit utama yakni 2 Digit untuk BAB, 4 digit untuk POS dan 6 digit untuk SUB POS. Untuk lebih lengkapnya silakan ikuti penjelasan di bawah ini :

Misal : HS CODE 0101.11.ss.ss telah diambil dari BTBMI (sebanyak 10 digit)
01 11 ss ss

_ _ Bab (Chapter) 1
_ _ _ _ _ Pos (Heading) 01. 01
_ _ _ _ _ _ _ _ Sub-pos (Sub-heading) 0101. 11
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ Sub-pos ASEAN, ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN)
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ Pos Tarif Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI)

Jadi setiap angka mewakili klasifikasi dari wilayaha atau pos WCO, sub Pos, AHTN dan terakhir kode BTBMI yang dimiliki oleh setiao negara yang ada di dalam wilayah pos tersebut. Seperti anda lihat pada diagram di atas, bab memiliki dua digit pertama dari deretan kode HS. Sedangkan dua digit setelahnya atau 4 angkat lanjutan merupakan perwakilan dari heading atau pos pada bab tersebut.

Enam digit angka pertama yang ada di dalam deretan tersebut merupakan sub heading atau sub pos dalam pembahasan kita sebelumnya. Pada contoh yang bisa anda lihat di atas sub pos ini diperlihatkan dengan kode 0101.11. Jadi delapan digit pertama yang ada di contoh tersebut adalah pos pos yang berasal dari teks AHTN sebagai sumbernya.
Dari total sepuluh digit angka di atas, semua itu berasal dari pos tarif nasional yang mengacu pada BTBMI yang menjadi buku panduan trader di Indonesia. Angka angka lain yang muncul merupakan aturan lain yang mungkin ada di dalam pengkodean seperti misalnya biaya BM, PPnBM, PPn atau Cukai serta peraturan tata niaga lain yang mungkin disepakati oleh kedua belah pihak.

Jadia pada intinya setiap negara yang telah bergabung dengan WCO memiliki kredibilitas untuk menambahkan dan atau mengembangkan kode kode HS yang sudah jadi standarisasi internasional sesuai dengan kebijakan pemerintahan mereka masing masing secara spesifiknya. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang menerapkan hal ini dari 200 lebih negara yang saat ini sudah tergabung bersama WCO.

Langkah-langkah Untuk Melakukan Interpretasi HS Code

Jika metode di atas cukup membingungkan anda, mungkin ada langkah identifikasi yang lebih sederhana untuk anda praktikkan di dalam metode penerapan HS Code ini. Salah satunya adalah dari segi identifikasi, Perlu anda tahu kalau dalam proses identifikasi ini anda hanya perlu mengetahui spesifikasi barang yang akan anda perjual belikan di pasar internasional. Pasalnya dengan memahami ini anda akan dengan mudah mengidentifikasi Bab apa yang mungkin berkaitan dengan barang tersebut.

Selanjutnya anda juga harus memperhatikan beberapa penjelasan yang kami paparkan di atas. Terkait barang yang sdah anda klasifikasikan secara khusus, pastikan anda melakukan klasifikasi secara hati hati dan tidak asal asalan. Pasalnya hal ini juga bisa memicu terjadinya kesalahan yang pasti tidak pernah anda harapkan sebelumnya. Lakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap klasifikasi dan BAB yang akan digunakan supaya proses filtering ini bisa berjalan sesui dengan standari yang sudah ditetapkan.

Setelah anda memastikan kalau bagian BAB sudah anda klasifikasikan dengan baik, selanjutnya anda hanya tinggal melakukan identifikasi yang berkaitan dengan pos serta sub pos atau AHTN yang pasti muncul di dalam porses pengkodean ini. Seperti sudah kita paparkan pada kesempatan sebelumnya kesepuluh digit angka yang ada di dalam deretan HS Code ini merupakan interpretasi dari beberapa data yang berkaitan dengan lokasi, jenis barang dan kebijakan pemerintah. Jasa Import Resmi Jakarta bisa menjadi salah satu solusi jika anda mengalami kendala dalam hal ini.

alt text

Manfaat yang Didapat Dari Penggunaan HS CODE

Seperti anda tahu, setiap klasifikasi dan penggunaan data dari HS CODE ini sudah tentu memberikan manfaat yang sangat besar terhadap proses trading yang dilakukan oleh masing masing pembeli dan penjual. Dalam hal ini, tidak mungkin HS Code digunakan oleh lebih dari 200 negara di dunia jika tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap proses jual beli yang mereka lakukan.

Dikutip dari berbagai sumber, ada banyak manfaat yang bisa diraih oleh para pelaku usaha jika mereka terlibat dalam penggunaan HS CODE di dalam proses perdagangan internasional yang mereka lakukan. Salah satunya adalah menjadikan HS Code sebagai dasar atau acuan di dalam proses perdagangan yang mereka lakukan dengan pihak lain. Sekitar 98% proses perdagangan yang terjadi di dunia ini ternyata tengah menggunakan HS Code sebagai dasar bagi berbagai aspek.

Menetukan tarif Bea Cukai

Salah satu yang paling signifikan tentunya adalah menjadi acuan untuk tarif bea cukai. Hal ini bisa dilihat dengan mudah jika sebuah negaa menggunakan HS Code di dalam porse perdagangan yang mereka lakukan. Lebih dari hal ini, anda juga bisa dengan mudah melihat kumpulan statistik dari international trading yang terjadi di dunia ini. Terlebih lagi saat ini ada penggunaan rules of origin yang bisa mempermudah anda dalam menganalisa kumpulan pajak internal.

Kemudahan dalam negosiasi

Tidak hanya itu saja, Penggunaan HS Code ini ternyaa juga bisa mempermudah anda dalam melakukan negosiasi dalam perdagangan internasional yang anda lakukan. Mudahnya anda dalam menemukan jadwal konsesi tarif di dalam organisasi World Trade Organization. Anda juga bisa dengan mudah mendapatkan tarif transportasi yang lengkap dengan statistiknya dari penggunaan HS CODE Ini.

Kemudahan dalam kontrol barang

Terakhir tentunya anda bisa dengan mudah melakukan pemantauan terhadap kontrol barang yang anda pesan seperti misalnya persentase limbah, senjata kimia, narkoba dan barang barang lain sejenisnya. Seperti anda ketahui, bidang yang mengatur kontrol dan prosedur di dalam pekerjaan cukai ini merupakan salah satu resiko yang berdasar ada kepatuhan terhadap teknologi dan informasi di dalamnya.

Memberikan penggolongan daftar barang yang seragam dan sistematis

Tidak kalah penting, hal selanjutnya yang bisa anda dapatkan dari penggunaan HS Code ini adalah kemudahan dalam analisa barang karena di dalamnya anda bisa mendapatkan keseragaman dam melakukan penggolongan daftar dan data barang barang yang ada secara sitematis. Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini.

Mempermudah pengumpulan data serta statistik dari total perdagangan dunia

Anda juga bisa mendapatkan statistik terhadap semua data-data yang berkaitan dengan proses perdagangan di seluruh dunia. Statistik ini sudah tentu akan sangat bermanfaat bagi anda dalam melakukan analisa terhadap setiap proses yang hendak anda lewati kedepannya. Statistik ini begitu penting untuk dipahami dan dikuasai karena akan sangat berpengaruh terhadap kondisi pasar dunia yang hendak anda hadapi.

Untuk yang terakhir dan tambahan dari kami, pastikan anda tahu kalau HS Code ini sudah tentu memberikan anda sebuah sistem internasional resmi yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan pemberian kode beserta penjelasan dan penggolongan produk untuk memudahkan perdagangan. Mungkin itu saja yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga pembahasan mengenai HS Code ini bisa bermanfaat untuk anda.
Berita Anda Wajib Tau Apa Itu HS CODE Sebelum Melakukan Kegiatan Exim

Latest Berita

Langkah Tegas Bea Cukai Mengatasi PenyelundupanLangkah Tegas Bea Cukai Mengatasi Penyelundupan
Tindak pidana penyelundupan akan dipenjara selama maksimal 10 tahun ditambah denda sampai 5 miliar rupiah.
Penyelundupan Barang yang Semakin Marak di Indonesia
Kasus penyelundupan kian hari kian bertambah dan ada berbagai jenis barang yang diselundupkan.
Penertiban Impor Borongan Oleh Ditjen BC
Pemerintah mulai untuk melakukan penertiban import boronga yang marak dilakukan.
Logo Kirimanku
Alamat Kami
Jl. Sunter Pulo Kecil Blok A3 No. 4, Rt. 02 Rw. 10, Kel. Sunter Jaya, Kec. Tanjung Priok, Jakarta Utara, DKI Jakarta, 14360
Social Media
Copyright © 2021 - PT Triyasa Cipta Multimoda.,
Jasa Pembuatan Website by IKT